
Dua instink dasar manusia
dan relevansinya dengan masa kini.
Drs. Psi. Agustinus Sulaeman, MBA.
Sigmund Freud, tokoh Psikoanalisa, mengatakan bahwa tingkah laku manusia didasari oleh dua instink, yaitu instink kehidupan (live instinct) dan instink kematian (death instinct).
Instink mempertahankan kehidupan muncul dalam bentuk cinta, dalam bentuk tingkah laku sex.
Instink kematian muncul dalam bentuk tingkah laku kekerasan.
Kedua instink tersebut masih nyata muncul dalam kehidupan sehari—hari di masa kini. Masalah Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender tidak lepas dari instink kehidupan ini. Juga masalah radikalisme, bom bunuh diri, kerusuhan, demonstrasi, tidaklah lepas dari instink kematian.
Ilmu pengetahuan sudah selayaknya tidak berhenti pada tahap analisa dan teori, tetapi seharusnya memberikan kontribusi kepada kemajuan kehidupan dan peradaban dalam bentuk pemecahan masalah dan jalan keluar.
Instink kehidupan dan instink kematian ada dalam diri manusia. Instink mana yang akan sering muncul dan dominan, tergantung dari berapa sering instink tersebut berhasil membantu seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.
Jika dalam pengalaman hidupnya seseorang lebih sering mengalami keberhasilan dalam memenuhi kebutuhannya dengan “bantuan” instink kehidupan, maka ia akan berkembang menjadi seorang yang optimis, berpikir positif, senang bekerja sama dan berperilaku baik.
Sebaliknya jika lebih sering gagal, maka instink kematian lebih dominan, melahirkan pola pikir dan pola tingkah laku yang negatif. Dengan demikian lahirlah orang yang menyukai kebencian, penuh irihati, dan perilaku negatif lainnya.
Perilaku manusia dapat dibentuk dengan menghadirkan pengalaman—pengalaman hidup yang diharapkan. Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat berperan dalam pembentukan karakter dan tingkah laku manusia. Dunia pendidikan tidak dapat terlepas dari kehidupan pada umumnya. Orang tua dan anggota masyarakat secara langsung maupun tidak langsung pasti berkontribusi pada perkembangan anak.
Orang tua, pihak sekolah dan masyarakat secara bersama bertanggung jawab pada perkembangan generasi muda dan peradaban manusia. Dengan demikian sudah selayaknyalah orang tua, pihak sekolah dan masyarakat bersinergi dan bermitra, bekerja sama menciptakan suatu lingkungan yang memberikan pengalaman—pengalaman pendukung perkembangan generasi muda.
No comments:
Post a Comment